Can You Hear Me (again)?

"Hey! Jawab, bu! Siapa dia?! Bertahun-tahun aku melihat Ibu bersama lelaki itu. Siapa dia?"
Ku injak perut lelaki itu hingga jatuh, tak henti aku memaki hingga suara ku serak, pipiku basah dengan air mata.Tak kunjung juga aku mendapat jawaban.
"Kenapa? Tak mau jawab, bu? Laki-laki di dunia ini apa tidak ada yang beres? Aku hanya ingin merasakan punya Ayah yang baik, bu. Sekali saja, sehari saja..." Air mata ku tumpah, dadaku sesak, aku ingin minum.
                                                                       
                                                                               **

"Aku haus..."
Lama aku duduk terdiam di atas kasur ku. Pagi ini aku terbangun dengan derasnya air mata. Pikirku 'Mimpi apa aku tadi? Sesak sekali rasanya.' Kupandangi seisi kamar kost ku, sambil memeluk bantal, aku merasa dadaku dipenuhi duri-duri, perih.  
Sudah Sering aku mempimpikan memarahi bahkan memukul Ayah, tapi kali ini aku memarahi Ibu. Iya, Ibu dan kekasih barunya. Bukankah selama ini aku tak pernah marah pada Ibu? Lalu ada apa? Aku harap semua itu hanya mimpi.

Aku terus memeluk bantalku yang basah, entah mengapa tak bisa ku hentikan tanngisan ini. Meronta bagai anak kecil, aku ingat pada Ayahku, pada semua laki-laki yang ada dalam hidupku.Sudah ribuan kali aku bertemu sosok ibu-ibu yang ku kagumi, tangguh, tulus dalam melakukan kebaikan, tapi mengapa aku belum pernah sekali saja melihat sosok ayah yang baik? Apa semua laki-laki memang begitu suka menyakiti hati? Apa memang kaena semua wanita banyak menuntut, sehingga semua laki-laki terlihat selalu salah?

Tiba-tiba ku teringat Ayah, apa kabar Ayah dan keluarga barunya? Pernahkah sekali saja ia teringat padaku? Tapi aku tak terlalu memusingkan hal itu, saat ini aku sudah bisa melakukan segalanya sendiri.Mungkin Ayah pikir aku amat sangat membencinya sehingga aku tak pernah mau lagi bertemu. Sebearnya bukan sperti itu, aku hanya tidak mau mengorek luka, aku paham baik Ayah, Ibu, dan aku pasti memiliki luka karena perpisahan itu. Maka aku memilih menjauh, berharap Ayah akan menjadi sosok yang baik dan patut di contoh bagi keluarga barunya, bagi anak bayinya yang kelak akan dewasa itu.Meski mungkin Ayah sama sekali bukan sosok yang baik di mataku.

Setidaknya jika aku tak merasakan kebaikan seorang ayah bolehkah aku mendapat seorang laki-laki yang baik untuk anak-anakku kelak?

Tak berselang lama, ku hapus air mata dan bangkit dari tempat tidur.

                                                                           ***
Semarang, 2 Mei 2016. Based on true story of someone I love.

Komentar