Surat Lamaran Pekerjaan Untuk Pak Presiden
Pak Presiden, saya sekarang sudah wisuda. Iya Pak Presiden, saya sudah lulus dari jurusan Sastra Indonesia, sudah jadi Sarjana Humaniora. Bapak Presiden pasti paham kan apa itu Sarjana Humaniora. Betul sekali pak, sarjana dari Fakultas Ilmu Budaya.
Fakultas yang tidak banyak orang tahu. Padahal dari namanya saja harusnya mereka yang mengaku orang Indonesia, yang selalu mengaku warga negara Indonesia harusnya tahu, harusnya bangga. Pak, Fakultas saya itu berisi manusia-manusia andalan bapak presiden loh, ada yang mempelajari sejarah Indonesia, bahasa Indonesia, bahasa daerah Indonesia, kebudayaan Indonesia. Bapak Presiden Indonesia kan pak? Saya yakin, pasti bapak sangat bangga dengan Fakultas Ilmu Budaya.
Oh hampir saja saya lupa kabarkan pak. Saat ini, saya merasa sudah lama menggangur pak. Bapak Presiden, saya ini anak pertama pak, ibu saya single mother, lalu saat saya sudah selesai kuliah di jurusan Sastra Indonesia apakah yang akan Indonesia berikan untuk keluarga kecil saya?
Bulan lalu ada hari Sumpah Pemuda. Mereka bilang berbahasa satu Bahasa Indonesia pak. Tapi kenapa saat saya kuliah dulu, tiap orang bertanya
"Kuliah dimana?"
"Universitas D"
Mereka akan menjawab "Wah pintar ya, universitas negeri. Jurusan apa?"
"Sastra Indonesia"
"Ah untuk apa milih jurusan ga bonafide gitu dek, mau kerja apa nanti. Bahasa Indonesia tu kan gampang, kenapa harus kuliah."
Itu mungkin hanya contoh dari kata-kata manusia yang ngakunya warga negara Indonesia, Pak Presiden. Selama saya kuliah 4 tahun 6 bulan, berapa kalimat merendahkan semacam itu yang harus saya hadapi?
Pak, berbahasa satu Bahasa Indonesia. Pak, apa saya salah? Apa mereka semua benar?
Sekarang, saya rasa mereka yang benar. Orang sekitar saya masih mengganggap dokter, pekerja bank, pekerja BUMN, kantor pemerintahan, itu semua adalah pekerjaan yang hebat. Lalu, saat saya mencoba mengikuti arus, Pak Presiden tahu apa yang terjadi? Mereka semua menulis syarat kualifikasi pekerjaan dengan jelas dan tekadang dengn huruf besar, KECUALI jurusan sastra dan seni.
Pak Presiden, bapak tahu? Saya bukan sastra loh, saya linguistik, tapi masuk ke dalam jurusan sastra Indonesia. Pak, dalam jurusan sastra Indonesia, kami juga memelajari bahasa asing, bahkan bahasa sanksekerta juga. Dalam linguistik, kami punya matakuliah semiotika sama seperti jurusan komunikasi, kami punya mata kuliah psikolinguistik cabang dari ilmu psikologi, lalu mengapa mereka semua di luar sana selalu bilang "Kuliah bikin puisi saja, novel saja."
Pak, apa sebegitu rendahnya kami di mata orang? Saya dulu banga bisa kuliah di Sastra Indonesia, lalu kemana saya sekarang harus membawa kebanggaan itu? Apa saya harus tetap tergilas dalam arus?
Pak Presiden, sekian lamaran pekerjaan dari saya, seorang pengangguran dari jurusan Sastra Indonesia, yang telah diremehkan bertahun-tahun oleh Warga Negara Indonesia itu sendiri.
Terimakasih Pak Presiden, semoga surat lamaran pekejaan ini dapat tersampaikan dengan baik.
Fakultas yang tidak banyak orang tahu. Padahal dari namanya saja harusnya mereka yang mengaku orang Indonesia, yang selalu mengaku warga negara Indonesia harusnya tahu, harusnya bangga. Pak, Fakultas saya itu berisi manusia-manusia andalan bapak presiden loh, ada yang mempelajari sejarah Indonesia, bahasa Indonesia, bahasa daerah Indonesia, kebudayaan Indonesia. Bapak Presiden Indonesia kan pak? Saya yakin, pasti bapak sangat bangga dengan Fakultas Ilmu Budaya.
Oh hampir saja saya lupa kabarkan pak. Saat ini, saya merasa sudah lama menggangur pak. Bapak Presiden, saya ini anak pertama pak, ibu saya single mother, lalu saat saya sudah selesai kuliah di jurusan Sastra Indonesia apakah yang akan Indonesia berikan untuk keluarga kecil saya?
Bulan lalu ada hari Sumpah Pemuda. Mereka bilang berbahasa satu Bahasa Indonesia pak. Tapi kenapa saat saya kuliah dulu, tiap orang bertanya
"Kuliah dimana?"
"Universitas D"
Mereka akan menjawab "Wah pintar ya, universitas negeri. Jurusan apa?"
"Sastra Indonesia"
"Ah untuk apa milih jurusan ga bonafide gitu dek, mau kerja apa nanti. Bahasa Indonesia tu kan gampang, kenapa harus kuliah."
Itu mungkin hanya contoh dari kata-kata manusia yang ngakunya warga negara Indonesia, Pak Presiden. Selama saya kuliah 4 tahun 6 bulan, berapa kalimat merendahkan semacam itu yang harus saya hadapi?
Pak, berbahasa satu Bahasa Indonesia. Pak, apa saya salah? Apa mereka semua benar?
Sekarang, saya rasa mereka yang benar. Orang sekitar saya masih mengganggap dokter, pekerja bank, pekerja BUMN, kantor pemerintahan, itu semua adalah pekerjaan yang hebat. Lalu, saat saya mencoba mengikuti arus, Pak Presiden tahu apa yang terjadi? Mereka semua menulis syarat kualifikasi pekerjaan dengan jelas dan tekadang dengn huruf besar, KECUALI jurusan sastra dan seni.
Pak Presiden, bapak tahu? Saya bukan sastra loh, saya linguistik, tapi masuk ke dalam jurusan sastra Indonesia. Pak, dalam jurusan sastra Indonesia, kami juga memelajari bahasa asing, bahkan bahasa sanksekerta juga. Dalam linguistik, kami punya matakuliah semiotika sama seperti jurusan komunikasi, kami punya mata kuliah psikolinguistik cabang dari ilmu psikologi, lalu mengapa mereka semua di luar sana selalu bilang "Kuliah bikin puisi saja, novel saja."
Pak, apa sebegitu rendahnya kami di mata orang? Saya dulu banga bisa kuliah di Sastra Indonesia, lalu kemana saya sekarang harus membawa kebanggaan itu? Apa saya harus tetap tergilas dalam arus?
Pak Presiden, sekian lamaran pekerjaan dari saya, seorang pengangguran dari jurusan Sastra Indonesia, yang telah diremehkan bertahun-tahun oleh Warga Negara Indonesia itu sendiri.
Terimakasih Pak Presiden, semoga surat lamaran pekejaan ini dapat tersampaikan dengan baik.
Komentar
Posting Komentar