Gadis, Tunggulah.
Dulu, waktu pindah SMA ke Semarang punya kakak kelas namanya Arga, ketua Osis, orangnya baik. Tapi ini cerita ga ada hubungannya sama dia, cuma pinjem nama dan karakter doang. Ya gitu deh pokoknya. Asikin aja ya bacanya :)
GADIS PENUNGGU PINTU
Koran mingguan Minggu Pagi, edisi 1 Juli 2009
Kesenduan selalu membias dari mata
mungil gadis kecil itu. Ikatan rambutnya yang berantakan membujur di tengkuk.
Ujung rambut kemerahan terbakar matahari atau mungkin kurang nutrisi. Gizi
buruk tak lagi sesuatu yang menghebohkan di lingkungan bawah jembatan ini.
Anak-anak dengan perut menggelembung dada bergalur tulang rusuk, gembira biasa
saja layaknya anak-anak pada umumnya. Berlarian di atas tanah merah yang
lembab. Atau bermain air di tepi sungai yang mengalirkan sampah.
Sampah
mungkin masalah buat penduduk perumahan yang tak jauh dari perkampungan kolong
jembatan itu. Tapi buat anak-anak ini adalah mainan yang tak ada habisnya.
Bahkan mata pencaharian bagi para orang
tua yang kebanyakan berprofesi sebagai pemulung. Plastik, kertas, remeh temeh
lain yang dibuang adalah penghidupan bagi sekelompok orang yang terpinggirkan
oleh nasib ini. Dan aku hanya bisa melewati saja tanpa berbuat apa-apa.
Aku
memang selalu trenyuh melihat kemiskinan itu namun aku tak memiliki apapun yang
bisa kusumbangkan untuk mereka. Uang sakuku hanya pas-pasan. Ibu tak bisa
memberiku lebih. Hanya cukup untuk naik angkot dan beli makan siang. Aku jadi
sedikit marah pada diriku karena tak bisa berderma walau hanya alakadarnya.
Setiap berangkat dan pulang sekolah aku selalu berpikir tentang apa yang bisa
kulakukan untuk mereka. Terutama gadis kecil itu.
Ia tak
terlihat seperti anak-anak yang lain. Ia selalu duduk diam bersandar pada
pintu. Dan pandangannya seperti mengikuti langkahku. Membuatku ingin tahu apa
yang dipikirkannya, kenapa ia begitu pendiam. Apa ia menderita suatu penyakit
atau mengalami gangguan kejiwaan.
Maka
hari itu sepulang sekolah, untuk menjawab rasa penasaranku kuhampiri ia dengan
senyum terlembutku. Kusodorkan beberapa biji permen untuk megawali sebuah
perkenalan. Ia menerima tanpa bicara. Matanya menunduk seperti akan menangis.
Atau mungkin malu-malu. Aku ingin bicara tapi tak tahu temanya apa.
“
Namamu siapa?” akhirnya pertanyaan perkenalan biasa yang keluar. Tapi gadis
kecil itu diam. Tiba-tiba ia memeluk kakiku erat dan mulai menangis.
“Kakak,
jangan pergi!” aku terkejut dan menjadi tak seimbang, bila tak segera
berpegangan pada tiang aku pasti jatuh. Ada apa ini?
“Kakak
baru datang jadi tak akan cepat pergi, jangan nangis, nanti kakak belikan es
krim.” Ujarku.
“Anik!
Jangan ganggu kakak itu!” suara perempuan dewasa keluar mendahului sosoknya.
Tak lama seorang ibu berdaster bunga-bunga sudah berdiri di samping Anik dan
menarik lengannya. Anik diam dan menuruti perintah ibunya.
“Maaf,
Anik jadi begini sejak kematian kakak laki-lakinya. Kalau dilihat-lihat memang
rada mirip sih. Apalagi memakai seragam putih abu-abu seperti ini. Kalau pulang
sekolah Arga suka membawa oleh-oleh permen seperti ini.”
“Kenapa
Arga bisa meninggal bu?”
“Sepulang
sekolah Arga suka ngamen buat nambah uang jajan, waktu itu dikejar-kejar
trantib, dia lari aja nggak liat jalan. Terus ketabrak mobil.” Aku mengangguk,
sekarang aku mengerti akan berbuat apa. Tak seberapa tapi kutahu akan sangat
bermakna untuk Anik yang kehilangan semangat hidupnya.
“Adik,
kakak pergi dulu ya, nanti kakak bawakan permen yang banyak.” Pamitku padanya.
Setelah
hari itu tak ada lagi gadis kecil yang menunggu di ambang pintu. Anik tertawa
ceria bermain bersama teman-temannya. Senyumnya manis menyongsongku yang
membawa segenggam permen untuknya.*
Komentar
Posting Komentar