Mengayuh Asa

             Mengayuh impian yang tinggi, itu arti namanya. Seseorang yang bahkan aku tak tahu persis apa mimpinya.
Terkadang ia bak ustadz yang menguasai segala ilmu agama, lain hari berubah seperti pemuda pecinta musik dan wanita. Kadang ia amat sangat memerhatikanku, bagai takut kehilangan, tapi itu hanya sementara. Bersamanya aku merasa sedang duduk dengan dua pribadi yang berbeda. Apa dia juga menyadari?

Hai, mungkin dari awal kita memang tidak pernah memahami satu sama lain. Aku tak paham apa yang kamu inginkan, yang aku tahu hanya kamu juga tak pernah ingin memahamiku.
Satu yang harusnya kita sadari, pahamilah bahwa semua orang di sekitar kita tidak pernah suka dengan hubungan ini.                                        
         Kamu dan egomu bisakah mengalah pada sesuatu yang memang sudah salah? Jangan memaksakan kehendak. Kamu tahu, aku juga sudah mencintai lelaki lain. Berapa kali kamu coba kembali, berapa hari hubungan ini bertahan, semua ini percuma karena pikiran dan hatiku ada disana, di bawa oleh seorang perwira dari gunung. 
Kini aku hanya ingin pergi jauh, mendaki, 
dan nanti aku akan berada di puncak bersama perwira itu melihatmu dari ketinggian.

                  Semula
Dari semula kita adalah salah.
Bahkan saat kita pergi dan kembali lagi kita tetap salah.
Sekuat usahaku. Pelukanmu terasa salah.
Dari semula.
Andai bisa mengulang semua dari semula.
Mungkin kita akan memahami kesalahan, dan mengalah.
Pergilah, kejar semua asa yang pernah kau ucap.
Hari ini, aku kan mengulang dari semula,
Mengulang 
Dari semula ketika kau dan kesalahan tak pernah ada disini.


*Hello fellas! Kamu tahu? Tanpa langkah pertama, impian tidak akan pernah tercapai. Jadi, mulai lah melangkah sedikit demi sedikit, mungkin mulai dari skripsi mu, hubunganmu dengan teman, dengan pacar, dengan Tuhan dan lain-lain. Percaya, setiap langkah baik yang kita mulai pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Mulai dari selesainya hubungan ini, cerita ini,  blog ini adalah langkahku.. mana langkahmu?

Komentar