Cangkir Kosong di Meja Kopi.
Hai hai..
Ini cerpen lama, pernah dimuat juga, tapi rasanya pas buat moment sekarang ini. Buat kalian yang pernah disakiti, diselingkuhin, korban tikung menikung, ya pokoknya pernah kecewa dalam percintaan. Sebenernya kalau menurut aku sih, ga ada salahnya kok ngasih kesempatan balikan buat orang yang dulu pernah mutusin kita, ninggalin kita. Asal mereka yang minta balikan itu paham aja, kalau kepercayaan itu ibarat cangkir kopi yang udah pecah, ga akan bisa balik lagi. Yah mungkin bisa sih di lem, tapi kan udah ga utuh lagi, ga cantik lagi bentuknya, kemungkinan malah gelas itu bisa bocor di sana sini. Karena rasa percaya dalam suatu hubungan itu sangat penting, jadi ya harus dijaga baik-baik. Dan pastinya kalau emang mau balikan, bener-bener pikir mateng deh.
Beberapa hari yang lalu aku juga baru balik sama mantan kok.. Aneh ya? Pengalaman pertama nih ngasih kesempatan kedua buat orang yang udah nyakitin hati. Berharapnya sih yang dulu ga terulang... tapi ternyata sama aja baru dua minggu juga udah kelar lagi, ya syukuri aja apa yang sudah terjadi. Dari pengalaman ini, setidaknya kami pernah bahagia dan aku bisa menyadari sebenarnya ada cowo lain yang lebih berarti di hidup aku dibandingkan dia yg minta balikan itu. hahahaa sudah yuk mari minum kopi anget, di temenin cerita ini :)
Cangkir Kosong di Meja
Kopi
Primadita (Harian Merapi, Edisi 8 Juli 2012)
Banyak
yang bisa kau reguk dalam secangkir kopi ini sayang. Tak hanya seduhan gilingan
biji arabika atau torabika semata. Pahit manisnya adalah pembelajaran hidup.
Dua rasa yang akan kau kecap bersamaan. Tentu saja kau bisa memilih kopi tanpa
gula hanya untuk mendapat rasa asli kopi. Aroma yang utuh tanpa bau gula tebu.
Kau akan mendapat pahit dan hitamnya kopi tanpa terganggu apapun. Tapi tentu
saja kau tak boleh mengeluh kepahitan sesudahnya.
“Aku
mencintaimu, maafkan aku.” Wajahmu begitu kuyu, memelas. Tapi tak sedikitpun
menggoyahkan rasaku. Setelah tiga bulan menghilang kau kembali dan minta
diterima dengan sebuah kalimat gabungan cinta dan maaf. Kurasa tak semudah itu
sebab sakit yang kau tinggalkan membuatku takut. Aku tak ingin merasakannya
kembali. Maka aku tak menjawab permohonanmu. Kubiarkan kau duduk tanpa kursi di
samping meja kopi. Senja di terasku jadi muram oleh bayanganmu yang menghalangi
sinar mentari.
Kedatanganmu
sungguh tak kuharapkan. Tak sedikitpun. Tapi aku pun tak hendak mengusirmu
seketika. Sebab aku ingin tahu apa yang kau mau. Kenapa kau mengusik kenyamanan
rutinitas minum kopi di senja hari. Saat aku sedang ingin meluruskan kaki,
menyandarkan punggung setelah lelah berkegiatan seharian.
“Tak
ada kopi untukku?” Terdengar begitu akrab. Seakan tak pernah ada masalah. Tak
tahu malu! Begitu banyak permintaanmu, tadi kau minta maaf sekarang minta secangkir
kopi. Dulu aku telah memberikan segalanya untukmu. Kasih sayang, pengabdian,
perhatian dan kesetiaan. Apalagi yang diharapkan dari cinta selain semua itu?
tak ada. Aku tak pernah meminta penghianatan darimu tapi kau memberikannya
dengan tanpa rasa bersalah. Bagai mengguyur hidupku dengan secangkir kopi pahit
yang tak enak kurasa. Aku menggeleng, sejak kau pergi tak pernah ada lagi
secangkir kopi untukmu.
“Baiklah
aku akan bikin sendiri.” Mataku hampir meloncat mendengar kalimatmu. Tak kan
kuijinkan kau memasuki rumahku. Tak boleh menginjak sedikitpun ruang
kehidupanku. Kau memasang wajah kecewa dengan penolakanku. Tapi bersikap tenang.
Dulu aku pernah begitu kecewa dengan keputusanmu yang tak mempertimbangkan
perasaanku. Lalu kenapa aku harus mengasihani dirimu yang begitu ingin minum
kopi?
“Sebenarnya
aku kangen kopi buatanmu.” Sebuah usaha penaklukan yang sia-sia. Tak sedikitpun
aku termakan. Dimana kau ketika aku merindukanmu? Hari-hari pertama putus cinta
adalah saat terberat. Rindu tanpa tahu kemana tertuju. Masih sayang tapi sakit
hati. Putus asa, kosong dan hampa. Hatiku panas, terbakar ,dan melepuh seperti
kulit bayi ketumpahan kopi yang baru dijerang.
“Aku
tak pernah lupa rasa seduhan kopi gula aren yang kau buat saat ulang tahunku.
Sederhana tapi istimewa.” Perasaan yang begitu dramatis. Mentari senja membias
kuning di wajahmu. Kornea matamu menjadi coklat bening seperti kopi moka. Masih mata yang indah tapi
aku tak menyukainya lagi.
“Masihkah
kau ingat kopi kesukaanku?” Nada suaramu berubah manja. Aku masih ingat
hari-hari minum kopi kita. Lesehan di teras depan rumahku atau duduk-duduk di
Kedai Kopi Senja, warung kopi sederhana di tengah kota. Disertai obrolan minum
kopi yang mesra penuh canda. Aroma kopi menguar dari bibirmu ke bibirku. Menjadi
kenangan yang kuakui indah. Entah berapa ratus cangkir kopi yang telah kita
minum dalam dua tahun kebersamaan, bila dikumpulkan mungkin sekolam renang. Dan
aku bahagia berendam di dalamnya. Sebab dalam tiap cangkir kopi itu tercurah
cinta. Tapi semua itu tak cukup berharga untuk menjadi alasan menerimamu
kembali.
“Aku
menyesal tak menghabiskan kopiku, bahkan aku telah memuntahkannya. Waktu itu
aku tak menyadari perbuatanku.” Setelah itu kau memilih untuk tak datang lagi
minum kopi bersamaku. Dan aku berpura-pura tak menunggu walau sangat merindu.
Aku meminum kopiku sendiri, yang kau sebut terlalu manis, di senjaku, di
terasku. Membaca majalah atau koran seakan tak menahan tangis. Aku mengontrol
perasaanku dengan begitu ketat. Keras terhadap hatiku. Karena aku tak mau jatuh
dan menjadi lemah setelah kau campakkan. Cangkir kopi coklat susu bertuliskan
inisial namamu, kosong menelungkup di meja kopi. Kau tak datang lagi untuk
mereguk cintaku yang kau anggap terlalu manis. Tak cocok dengan seleramu.
“Kau
pasti tak suka kelakuanku waktu itu, tapi kumohon jangan membenciku. Waktu itu
seleraku hanya sedang tergoda.” Tak ada yang bisa menentukan selera orang.
Biji-biji kopi yang difermentasi dalam perut seekor luwak pun menjadi kopi
penuh cita rasa. Mahal dan eksklusif.
Disukai hingga manca negara. Tak peduli bahwa nyatanya biji kopi melewati
proses pengeluaran dari dubur binatang itu. Aku tahu, maka aku tak memaksamu.
Tak bisa kupengaruhi hatimu untuk tetap suka padaku. Walau kusediakan cinta
termanis. Tersaji hangat di atas meja, yang bisa kau nikmati dengan suasana
senja yang tak ada di mana-mana. Tapi aku akan setabah kopi luwak, sekali dalam
fase hidup pernah menjadi kotoran namun bangkit kembali menjadi yang nomor
satu.
“Bicaralah,
jangan diam saja. Aku menyesali perbuatanku, kini aku ingin kembali padamu. Aku
sadar kau yang terbaik.” Aku makin terdiam. Semakin dingin seperti secangkir
kopi manis yang kuseduh sore itu. Kopi yang kubuat untuk diriku sendiri. Sepeninggalmu aku minum kopi sendiri. Aku
terbiasa kini. Dan kesendirian itu bukan berarti masih menyimpan harap
padamu.
“Benar-benar
tak mau bicara? Kau boleh berkata apa saja, sejelek apapun kuterima.” Untuk apa
bicara sesuatu yang telah berlalu? Telah kuterima dengan lapang dada ketika kau
memutuskan cinta dengan alasan tak cocok lagi. Mungkin kau menemukan secangkir
cinta lain yang lebih pas denganmu. Aku ikhlas, ketika dulu kau menolak
menghabiskan kopimu. Cinta kita tak berlanjut, selesai pada gelas kopi
terakhir. Aku terluka cukup lama setelahnya. Untuk berapa waktu cangkir kopimu
walau kosong tetap berada di tempatnya. Tapi aku terus menguatkan hati. Doa
yang tak putus menjadi kafein yang menguatkan hidupku. Hingga aku bebas dari
segala rasa dan cangkir kopi kosong di meja kopi itu kini tak berarti apa-apa.
“Baiklah,
mungkin kau perlu waktu. Kuberi kesempatan berpikir, tapi jangan lama-lama.”
Lagi-lagi kau meminta. Setelah sakit yang kau beri, kau hadir dengan begitu
banyak permintaan egois. Seharusnya dengan diamku kau berpikir. Mungkin kau
mengira aku masih sama seperti saat ditinggalkan.
Maaf sayang, waktu merubahku menjadi tahu. Aku telah belajar.
“Tahukah
kau, kopi buatan Dian tak semanis kopimu.” Aku membuang muka. Membandingkan
diriku dengan perempuan itu, sungguh tak berperasaan! Kau memujanya waktu itu.
Kau yakin aku tak ada apa-apanya. Tak ada harganya. Secangkir kopi hitam kental
kesukaan perempuan itu membuatmu penasaran untuk ikut mencicipi. Dan ia
membuatkan segelas untukmu. Hanya segelas! Tapi membuat hatimu beralih
seketika. Lalu setelah puas mereguk segala pahitnya. Kau mengiginkan rasa yang
lain. Kopi dengan campuran susu didalamnya? Kopi luar negeri bercitarasa modern
ala eksekutif muda. Moccacino, capuccino?
Di kafe, di bar, atau lounge?
Kudengar
kau bertualang, mencicip aneka minuman. Kau mungkin sedang mencari rasa yang
pas dengan seleramu. Atau kau terlalu bodoh sehingga tak tau apa yang kau mau.
Kau perlu pengalaman empirik dari yang biasa hingga yang bahaya. Kau peminum
segala. Hingga perutmu kembung, jiwamu sakit! Tahukah kau apa yang tercecap
oleh lidah tak sama dengan apa yang dirasakan lambung. Salah-salah mencampur
minuman ginjalmu sakit, perutmu terbakar. Kau boleh menyesal. Tapi simpanlah
sesalmu sendiri. Jangan datang lagi padaku.
Maka
sayang, janganlah kau jilat kembali kopi yang telah kau muntahkan hari itu di
hadapanku. Itu perbuatan kotor! ***
Semarang
2012
aku akan setabah kopi luwak
BalasHapuskopi luwak instan?
BalasHapus